
sapi di kandang peternak
Sebagian warga dusun Paingan Pengasih Kulon Progo DIY, kini tak harus khawatir bila warung pemasok gas sedang kehabisan stok. Mereka tetap bisa memasak sayur dan air dari gas yang tidak harus dibeli di warung-warung desa.
Kompor gas warga tetap akan memancarkan sinar birunya setelah segelintir warga dusun setempat secara tak sengaja mengolah kotoran sapi menjadi biogas.
Latar belakang pengolahan kotoran sapi menjadi biogas itu dipelopori oleh Sukidal pada tahun 2002. Akan tetapi mulai serius dikembangkan baru sekitar tahun 2006. Dulunya, Sukidal hanya menggunakan sendiri. Dia memasak dengan bahan bakar biogas, sementara pupuknya tetap laku dijual.
Di luar dugaan, dari mulut ke mulut diketahui bahwa selain menjual pupuk hasil dari kotoran sapi miliknya, Sukidal juga memproduksi biogas.
Maka banyak warga dusun lain yang ‘ngangsu kawruh’ ke Sukidal untuk mengolah lotoran sapi menjadi biogas dan pupuk organik sekaligus. Padahal sebelumnya, kotoran sapi yang baunya sangat menyengat itu dibiarkan mongering begitu saja.
Pemnafaatan biogas yang dihasilkan, semula hanya untuk memanaskan bekatul pakan sapi saja. Baru setelah dihitung-hitung nilai ekonomisnya, barulah Sukidal dan beberapa warga Paingan, Sendangsari Pengasih itu mengoptimalkan pemakaian biogas untuk keperluan memasak di rumah-rumah mereka.
Penyebab utama warga budidaya biogas ini sudah menjadi kebiasaan dan rutinitas masyarakat sekitarnya. Artinya ketika mereka memproduksi pupuk organik, lebih karena sebagian besar lingkungan mereka membuat produk tersebut, karena terkadang sudah menjadi kebiasaan dari keseharian masyarakat. Mereka tidak pernah lagi terpikirkan apakah produk mereka punya nilai ekonomis yang tinggi atau tidak, yang penting yang penting mereka dapat mempergunakan pupuk organic tersebut untuk kebutuan para petani memupuk sawah dan ladang mereka
Dalam beberapa tahun terakhir ini, warga dusun setempat bermimpi, ke depan pengelolaan biogas dan hasil pupuk organic dari kotoran sapi itu menjadi sebuah industri rakyat yang menguntungkan.
Bahkan hasil biogas dan pupuk irganik di dusun ini dapat menghasilkan rupiah yang cukup besar, karena banyaknya pupuk yang kelak diminati petani daerah lain. Saat ini, pupuk satu karung seberat 20-kg an harganya Rp 8 ribu. Masih murah memang harganya.
Impian warga dusun Paingan makin melebar. Ke depan, tak hanya akan menjadi pemasok biogas dan pupuk organik ke luar daerah. Warga setempat berharap, Paingan dapat dikemas sebagai desa tujuan pariwisata bahkan sebagai salah satu tempat pelatihan kerja di bidang pengolahan biogas dan pupuk organik.
Dengan demikian, potensi yang dimiliki Paingan benar-benar mampu mengangkat derajad kehidupan warga setempat. Syukur-syukur, makin menekan angka

Zainal Arifin (Anggota Tim Pengelola)
pengangguran yang terjadi di pedesaan.
Bila ingin memperoleh informasi lebih lengkap ihwal biogas dan pupuk organik di dusun Paingan, silakan menghubungi: Zainal Arifin, salah seorang Tim Pengelola Biogas dan Pupuk Organik Paingan. Kontak person: 081802667857.
(arm)










Posted in 












