
Puing-puing bekas los pasar burung Ngasem dengan latar belakang Pulo Cemeti, situs budaya kraton
Situs budaya Pulo Cemeti, kini makin terlihat jelas dari arah utara, setelah puluhan los pasar burung Ngasem dirobohkan. Dan sejak Kamis 22 April 2010, secara resmi 257 pedagang burung dan satwa lain, hijrah dari pasar tradisional tertua Yogyakarta, menuju pasar satwa baru di kawasan Dongkelan, perbatasan kota Yogyakarta dengan Kabupaten Bantul.
Peristiwa bersejarah bagi pedagang satwa di kawasan kraton Yogyakarta ini, ditandai dengan kirab. Sekda Provinsi DIY Tri Harjun secara resmi melepas kirab dengan memecah kendi berisi air kembang setaman.
Rangkaian peserta kirab, terdepan mobil pengawalan, kemudian diikuti pasukan berkuda, yang dikomandani Kepala Dinas Pasar, Achmad Fadli, kemudian diikuti bakul-bakul satwa yang seluruhnya mengenakan pakaian Jawa gaya Yogyakarta. Di perjalanan, ada sejumlah bakul yang membagikan burung kepada masyarakat yang berjejer di pinggir jalan.

Pedagang burung naik andong sambil membagi-bagi burung-burung kecil kepada penonton kirab
Di lokasi baru, yakni PASTY, (Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta) di Dongkelan, perwakilan pedagang membacakan kesepakatan yang pada intinya sanggup menjaga pasar agar tetap bersih, aman dan memberikan pelayanan prima bagi pengunjung.

Walikota Herry Zudianto menjajal 'tomprang' atau adu cepat burung merpati
Dalam rangkaian upacara hijrah ini, walikota Yogyakarta Herry Zudianto menandatangani prasasti, membuka selubung papan nama, serta secara simbolis membuka satu kios pertanda pasar satwa di dongkelan resmi dipergunakan.










Posted in 












