Bambu memang lebih dikenal sebagai bahan baku kerajinan tradisional, ketimbang untuk bahan pembuat bangunan tahan gempa. Namun tidak dipungkiri, nasib bambu sebagai bahan kerajinan ternyata tidak secemerlang yang dibayangkan. Meski begitu, kreativitas tangan-tangan trampil terus saja memproduksi berbagai bentuk kerajinan. Ada yang cukup dipasarkan di dalam negeri, tapi banyak juga yang menembus pasar dunia.
Sukidi misalnya. Di bawah bendera Pusat Industri mebel Bambu Karya Makmur, Sukidi mampu menembus pasar mancanegara. Bukan mebel bambu andalannya, melainkan pagar bambu. Sekali kirim bisa mencapai 2.000 unit. Per unitnya dengan ukuran 1 kali 2,4 meter. Bila dijual di pasar lokal Indonesia, per unitnya bisa mencapai Rp 90.000,-. Sedangkan untuk dijual ke mancanegara, Sukidi tak mau menyebutnya, karena pemesannya masih menjual lagi ke pengguna. Pagar kiriman Sukidi biasanya digunakan untuk penyekat kandang atau halaman.
Untuk menembus pasar Australia yang sudah 3 tahun berjalan ternyata tidak
gampang. Sukidi mengirimkan contoh terlebih dulu. Setelah itu, dites kekeringan maupun kualitas bambunya. Setelah lolos uji, barulah buyer memesan dalam jumlah banyak. Setiap kali pengiriman jumlahnya rata-rata 2.000 unit. Dan yang tidak lolos kirim hanya sekitar 20 unit saja.
Ini semua memang sudah diantisipasi Sukidi. Bambu jenis wulung yang dikirim dari Pacitan, Kulonprogo dan Purworejo memang sudah pilihan. Selain itu, proses pengeringan serta pemberian obat anti rayap juga dilakukan secara maksimal.
Meskipun hanya berbentuk pagar, namun proses pembuatannya membutuhkan banyak tahap. Karenanya wajar, bila harga per unitnya hampir menembus Rp 100 ribu untuk pasar lokal.










Posted in 












