Posted by ARM on May 4th, 2010
Mbah Karto Utomo, nenek yang menurut pengakuannya berusia 90 tahun
sampai saat ini masih setia membuat angkrek bermotif menyeramkan, wayang dari kertas bekas, sangkar burung ukuran mini, serta payung kertas.
Di era serba plastik seperti sekarang ini, bisa ditebak, anak-anak kurang tertarik mainan tradisional yang penampilannya kurang menarik dan mudah rusak itu. Cepat atau lambat, mainan anak jadul atau jaman dulu, akan benar-benar punah.
Posted by ARM on May 2nd, 2010
Tradisi ciblon atau bermain musik air di sungai kembali dihidupkan oleh warga Kampung Darakan, Prenggan, Kotagede, yang tinggal di tepi sungai Gajahwong Yogyakarta. Sabtu , 1 Mei 2010, kembalinya tradisi yang sudah hilang sejak tahun 80-an lantaran pencemaran air yang sudah kelewatan itu, dimeriahkan dengan ritual ‘memanggil ikan’ oleh seniman Jemek Supardi.

Jemek lakukan upacara ritual panggil ikan
Pargiyanto, salah seorang tokoh masyarakat Darakan berharap, warga yang tinggal di atas hendaknya juga ikut menjaga kebersihan sungai, dengan tidak membuang sampah di kali Gajahwong. Sebab, tak ada artinya warga setempat menjaga kebersihan lingkungan kalau di tempat lain masih asal buang di kali.
Posted by ARM on May 2nd, 2010
Bambu, di tangan anak muda Andi Ramdani, naik gengsi. Bambu sebanyak 2 mobil colt penuh, dibawanya ke Taman Budaya, kemudian disusunnya dalam bentuk melingkar, setelah dipotong pendek-pendek. Berbagai karya lain berbahan baku bambu juga dipajangnya. Maklum, Andi, lajang asal Tasikmalaya Jawa Barat, memang seorang pelukis, lulusan ISI Yogyakarta, tahun 2009 lalu.
Sejak tahun 2006 hingga kini, bambu senantiasa menggelisahkan naluri kreatifnya. Bahkan ia sempat bingung, antara bermetafora dengan bambu atau melukiskan produk-produk dari bambu. Dalam perjalanannya, Andi makin kukuh, bahwa tema bambu akan terus digeluti sepanjang kreasinya, tak terpengaruh tema-tema lain, yang mungkin saja lebih diminati pasar.
Posted by ARM on April 26th, 2010

Eko Widodo - 085292244518
KAWULA MUDA yang berjiwa entrepreneur memang belum banyak. Eko Widodo adalah segelintir dari kawula muda yang memilih jalur bisnis. Bersama rekan-rekannya, Eko Widodo membidik pasar yang menjadi kekuatan Yogyakarta, yakni pendidikan.
Produk kreatif yang dihasilkan Eko itu, dikelola di bawah payung bisnis Griya Smart Education. Eko terlebih dulu menggarap pasar anak usia dini, dengan memproduksi alat peraga cara cepat belajar 3 bahasa sekaligus, yakni Indonesia – Inggris dan bahasa Arab.
Posted by ARM on April 24th, 2010

Puing-puing bekas los pasar burung Ngasem dengan latar belakang Pulo Cemeti, situs budaya kraton
Situs budaya Pulo Cemeti, kini makin terlihat jelas dari arah utara, setelah puluhan los pasar burung Ngasem dirobohkan. Dan sejak Kamis 22 April 2010, secara resmi 257 pedagang burung dan satwa lain, hijrah dari pasar tradisional tertua Yogyakarta, menuju pasar satwa baru di kawasan Dongkelan, perbatasan kota Yogyakarta dengan Kabupaten Bantul.
Peristiwa bersejarah bagi pedagang satwa di kawasan kraton Yogyakarta ini, ditandai dengan kirab. Sekda Provinsi DIY Tri Harjun secara resmi melepas kirab dengan memecah kendi berisi air kembang setaman.
Posted by ARM on April 19th, 2010
Burungnya sendiri sudah seru kicauannya, seperti jenis cucakrowo. Apalagi jumlahnya puluhan, dan dijejer berdekatan dalam sebuah lomba. Minta ampun riuhnya. Belum lagi bila ditingkah dengan ulah dan teriakan pemilik maupun pengunjung yang menjagoi burung tertentu keluar sebagai juaranya. Suaranya makin gaduh saja.

berkumpul
Karena itulah, panitia lomba burung berkicau di Sleman Minggu lalu mensyaratkan ketentuan tanpa teriak. Maksudnya, tidak boleh ada yang menyebut nama yuri, nomor gantangan, bertepuk tangan dan sebagainya.
Posted by ARM on April 17th, 2010
Ayam berbulu putih, akan lebih menguntungkan bagi pemiliknya ketimbang yang berbulu warna lain. Di tangan orang-orang trampil seperti Saheman Singowiro, bulu ayam warna putih itu dibelinya, untuk dijadikan bahan baku produksi shuttlecocks.
Pengalaman lebih dari 25 tahun menjadi buruh pabrik cock dan dilanjutkan menjadi juragan kecil-kecilan sejak 15 tahun lalu sampai sekarang, membuat Saheman memantapkan dirinya sebagai pembuat shuttlecocks yang mampu menjaga kualitas produknya.