Masa kejayaan seniman yang berbisnis, seperti pematung, pelukis, dan pekerja seni lainnya, sudah berlalu lebih dari 10 tahun silam. Bila mereka masih menggelutinya hingga kini, seperti seniman patung Yulhendri, mereka hanya sekedar bertahan hidup, sambil menunggu muzizat datangnya masa kejayaan alias booming, yang mungkin di suatu saat bakal datang kembali.
Usai menyelesaikan studi dari ISI, Yul lelaki Padang ayah tiga putra ini, mengawali kiprahnya sebagai pematung dengan membuat model-model Indian. Dalam perkembangannya, Yul bisa membaca kesukaan orang-orang asing terhadap karya seni etnik, terutama etnik Indonesia.
Yulhendri, 43 tahun, seniman lulusan ISI Yogyakarta itu, saat ini memang masih mendapatkan order dari mancanegara. Namun diakuinya, pesanan patung karya-karyanya, hanya order kecil-kecilan saja, dan harganya relatif murah. Anjloknya harga karya seni tersebut, sebenarnya ulah para seniman sendiri. Sesama seniman saling banting-bantingan harga. Akibatnya, bila yang datang ke tempat seniman itu makelar, maka harganya makin jatuh lagi. Sampai saat ini, karya termurah Yul dijual Rp 200 ribu dan termahal mampu menembus harga Rp 10 juta.
Lebih memprihatinkan lagi, bule-bule yang keluar masuk sentra kerajinan banyak yang hanya berperan sebagai makelar. Bahkan diistilahkan Yul hanya bikin kacau saja. Suatu saat ada bule datang, yang belakangan diketahui sebagai makelar. Dia beli satu dua produk, harganya Rp 600 ribu per produk. Diam-diam, si makelar itu mendatangi seniman lain yang kira-kira bisa mengerjakan karya seperti punya Yul. Dengan seenaknya bule itu menekan harga, hingga menjadi Rp 200 ribu. Akibatnya bisa ditebak. Harga serta merta anjlok.
Lantas solusi Yulhendri? Ya bikin model baru yang lain. Setelah 2 – 3 tahun harus segera ganti model baru. Kalau mau menjiplak silakan. Mau banting-bantingan harga ya silakan. Dalam kaitan ini, Yul berharap, pemerintah hendaknya segera menangani dunia pengrajin handicraft. Menurutnya, pemerintah baru serius menangani seniman musik dan tari. Dua kelompok seni ini, hak patennya sudah mendapat perhatian. Untuk aktivitas bisnis handicraft, yang diharapkan dari pemerintah adalah menjaga harga supaya tidak banting-bantingan serta membantu hak paten karya cipta.
Sebagai pematung yang memiliki show-room di Kasongan, Yulhendri berpendapat, sentra kerajinan gerabah di Kasongan ini perlu dkembangkan karena masih banyak lokasi yang sampai saat ini belum dimanfaatkan. Kawasan Kasongan ke barat hingga berjarak 10 kilometer masih banyak lahan bisa dioptimalkan untuk pengembangan sentra kerajinan Kasongan yang memang sudah mendunia.
(arm)












Posted in 












