Ayam berbulu putih, akan lebih menguntungkan bagi pemiliknya ketimbang yang berbulu warna lain. Di tangan orang-orang trampil seperti Saheman Singowiro, bulu ayam warna putih itu dibelinya, untuk dijadikan bahan baku produksi shuttlecocks.
Pengalaman lebih dari 25 tahun menjadi buruh pabrik cock dan dilanjutkan menjadi juragan kecil-kecilan sejak 15 tahun lalu sampai sekarang, membuat Saheman memantapkan dirinya sebagai pembuat shuttlecocks yang mampu menjaga kualitas produknya.
Istri, anak dan sejumlah tetangga di kampung Singosaren, Wirobrajan
Yogyakarta, adalah modal untuk menjaga kualitas produknya. Sebagai pengusaha skala rumahtangga, Saheman memang baru mampu setiap harinya membuat cock rata-rata 15 slop atau 200-an biji shuttlecocks.
Satu slop cocks yang jumlahnya 12 buah, yang termurah Rp 20 ribu per slopnya dan yang termahal, yakni kualitas super, harganya Rp 45 ribu per slopnya.
Bagi Saheman Singowiro, yang lebih bermakna adalah produknya yang selalu terserap pasar, tanpa harus promosi kesana-kemari. Pembelinya datang secara gethok-tular. Pembeli awal cock bermerek Hesti adalah kenalan Saheman di lapangan bulutangkis.
Nama Hesti, menurut Saheman diambilkan dari nama depan anak perempuannya.
Lelaki setengah baya itu tidaklah pelit dalam membagi keahliannya dalam membuat cocks. Banyak tetangganya yang minta diajari kemudian membuka uaha sendiri. Ada seorang penjual soto kelilingan, setelah selesai jualan lantas bergabung di rumah Saheman, nyambi membuat bulu ayam yang jadi alat olahraga itu.
Saheman juga diminta oleh SLB Negeri Kalibayem untuk mengajarkan membuat cocks ini.
Dia samasekali tidak takut untuk disaingi. Dalam hal produksi, pastilah kalah disbanding dengan perusahaan besar. Tetapi dalam hal kualitas, pelanggan sudah mengujinya. Meski usahanya cuma berskala rumahtangga, namun shuttlecocks ‘Hesti’ selalu terserap pasar.
Kontak person : Saheman – 081392123024










Posted in 












