TERKIKISNYA KEKAYAAN ADILUHUNG MINANGKABAU

Hamzah-Staf Pengajar STSI Padang Panjang dengan latar belakang salah satu karyanya yang dipamerkan

Minangkabau terkenal sebagai daerah yang memiliki norma dan adat-istiadat yang kuat. Itu dapat diamati dari bangunan rumah gadang, rumah adat dan rumah-rumah bersejarah lain yang merupakan kekayaan budaya bangsa bernilai adiluhung.

Namun di mata Hamzah, lelaki Minang kelahiran Mengganti Sumatera Barat, kekayaan adiluhung ini tidak lagi terawat. Bahkan banyak di antaranya sudah mengalami kerusakan, lapuk, roboh dan runtuh.

Keadaan memprihatinkan inilah yang diangkat dosen STSI Padang Panjang ini , sebagai tema sentral lukisannya. Hamzah menggelar pameran tugas akhir sebagai mahasiswa S-2 Pasca Sarjana ISI Yogyakarta bersama 5 perupa lain, yang kebetulan juga staf pengajar senirupa di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Hamzah melihat permasalahan serius di ranah Minang, dimana berbagai artefak adat dan budaya yang bernilai tinggi sebagai heritage daerah setempat, hancur akibat ditinggalkan pemilik aslinya. Sementara, anak turunnya tidak tertarik untuk melestarikannya.

Kerisauan-kerisauan Hamzah inilah yang dipresentasikannya melalui ungkapan-ungkapan dalam tema lukisan yang digelar di P4TK Kledon Sleman selama 3 hari sejak 26 Juli 2010. Pameran tersebut bersamaan dengan ujian S-2 Pasca Sarjana ISI Yogyakarta.

Rumah yang roboh dan rusak itu masih teronggok di tempat semula. Sementara, pemiliknya tidak memperbaikinya, tapi justru membuat rumah baru di dekatnya dengan bentuk yang modern. Itu yang membuat Hamzah miris.

Hamzah mengangkat tema pameran tugas akhirnya dengan tajuk”Cancang dalam Seni Lukis”. Kayu untuk membuat patung, daging untuk bahan makan dan batu yang akan diukir, harus mengalami proses dicancang atau dicacah dulu.

Keadaan rumah adat yang rusak, roboh, hancur dan runtuh itulah yang dilukiskan oleh Hamzah dalam karyanya. Hamzah menekankan, bukan hanya ujud rumah saja yang roboh, tapi sesungguhnya nilai-nilai yang adiluhung itu sendiri yang sudah mulai runtuh.

Hamzah sengaja mengundang warga Minang lintas usia yang tinggal di Jogja untuk menyaksikan pameran yang digelarnya

Terjadinya benturan antara nilai-nilai yang dipertahankan oleh ninik mamak dengan generasi muda yang mengagungkan nilai modernisasi sangat merisaukan Hamzah yang sebenarnya masuk generasi muda karena usianya baru akan masuk ke 40 tahun.

Hamzah berharap pemerintah daerah bersama tokoh-tokoh adat serta masyarakat Minang lintas generasi agar bersama-sama menjaga rumah-rumah adat yang masih ada serta membangun kembali yang sudah roboh. Dan yang tak kalah pentingnya adalah memberikan pemahaman bagi generasi muda bahwa rumah gadang dan rumah adat lainnya itu tak ada duanya di belahan dunia ini. Sehingga tidak ada kata lain kecuali mempertahankan dan melestarikannya. (WN/ARM)

Kontak Person Hamzah: 0818461849


Share
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Powered by WordPress | Visit iFreeCellPhones.com for Verizon Cell Phones | Thanks to Palm Pre Blog, Free MMO and Fat burning furnace review